Second Floor of The Lost Dimension

Speaking of nightmares? Hm, i have a lot to tell.. just worry if you don't have enough time to listen. Or this time, to read.

But please make sure you JUST read it when don't involve in any conversation or activity.

This one is called :
"Second Floor of The Lost Dimension" Part 1

Aku berkunjung ke sebuah rumah besar dan mewah di sebuah kota.. Rumah itu bergaya rumah prancis klasik tahun 1970-an. Terlihat beberapa orang berlalu lalang dengan kesibukan tersendiri. Tidak tahu siapa saja mereka, tapi yang jelas tak ada yang ku kenal. Ada yang sedang berbincang, minum teh sambil main catur, anak-anak bermain di halaman rumah yang diselimuti rumput hijau dan beberapa kelompok bunga yang berwarna cerah. Ku pikir sepertinya ada semacam acara keluarga di rumah ini.

Sambil menelusuri beberapa ruang antik disini, ternyata ada sebuah tangga besar berkelok yang menjurus ke lantai 2 rumah ini. Seorang ibu memperingatkan anak nya yang masih kecil untuk tidak naik ke tangga tersebut. Dan kabarnya memang sudah lama tidak ada orang yang naik kesana. Lantai 2 itu dari bawah tidak kelihatan aneh. Cuman agak gelap saja karena lampu tidak dihidupkan. Tidak ada yang aneh. Tidak ada pintu yang disegel ataupun sarang laba2 pekat disudut ruang seperti di film horor. Lantas kenapa tidak ada yang mau ke atas? Ada hantu?

Mungkin.

Rasa penasaran muncul, aku mengajak beberapa orang pemberani untuk naik.

Kami pun memulai ekspedisi ini. Derit kayu terdengar saat sepatu kami menginjak tangga kayu itu. Kami menarik nafas panjang dan mencoba untuk saling tidak menunjukan ketakutan. Selangkah demi selangkah kami naik, dan udara sekitar kami mulai terasa beda saat kami hampir tiba di lantai 2. Anak laki-laki sekitar 11 tahun-an berbaju merah dengan ransel berwarna biru dan berambut kuning (jika anak ini hilang di keramaian akan cepat ditemukan ibunya) yang berada di paling depan membalikkan wajahnya ke arah kami. Bisa ku rasakan dia sudah mulai mau membatalkan trip ini. Kami saling berpandangan.

"Mau turun?" Tanya kakaknya yang berada di samping ku. Namanya Lisa. Kami barusan tukar nama.
Adiknya menahan nafas sejenak. Dan menelan ludah.
"Tidak." Jawabnya sambil meneteskan keringat di wajahnya yang bundar.
"Ok. Ayok naik lagi sebelum ketahuan mama." Ketus Lisa sambil mendorong kecil bahu adiknya.

===================

"Second Floor of The Lost Dimension" Part 2

Aku, Lisa, dan Danny (adik Lisa) sudah hampir sampai di lantai 2.

3 langkah berikutnya sampailah kami ke lantai 2 yang misterius itu. Sejauh ini, kami masih hidup.

"Lisaaaa, Dannyyyy dimana kalian..? Egg tart nya di meja... Tar dimakan ya.. Jam 6 uncle Sam akan datang jemput kalian.." Terdengar suara sayup memanggil kedua teman ku itu. Ternyata suara mama mereka di balik dinding dapur.
Kami melirik ke jam tangan dan waktu menunjukan pukul 05.06 sore, jadi masih cukup lama.
"Mau kemana kalian?" Tanyaku.
"Ntah lah. Belum ku tanya." Jawab Lisa nyengir.

Diatas sini tidak banyak barang. Hanya ada sebuah sofa dengan motif bunga berwarna kusam kekuningan dan sebuah meja kecil kayu antik berdebu. Aroma kayu tua di lantai ini sangat menyengat. Mungkin karena tidak ada sirkulasi udara yang cukup disini. Jendela besar yang ada juga tertutup rapat. Diatas sofa tersebut tergantung sebuah lukisan wanita chinese cantik berpakaian gaun merah dan berambut pendek. Tidak tahu siapa dia. Yang pasti dia cantik sekali seperti penyanyi Teresa Teng. Itulah yang ada di ruang tamu yang cukup besar ini. Dari ruang tamu, terdapat sebuah koridor selebar 3 meter, dimana kanan kiri nya merupakan deretan kamar berpintu biru muda. Cukup gelap dan lembab. Dan saklar lampu tidak bisa dinyalakan.
Danny mengeluarkan senter kecil dari dalam ransel nya. Untunglah. Dengan hati-hati kami mulai berjalan menelusuri koridor itu. Tidak kedengaran lagi suara dari lantai 1. Lisa mencoba membuka salah satu dari pintu kamar tersebut. Terkunci. Sudah bisa diduga.

"Lisa.. ayok kita turun saja.." bisik Danny sambil mengarahkan senter ke sekitar kami. Muka gelisahnya lucu sekali.
Kami mencoba lagi di pintu berikutnya. Tidak ada yang bisa dibuka. Anehnya juga, koridor itu cukup panjang. Dan sepertinya tidak kelihatan ujungnya. Aku merasa penasaran dan berjalan mendahului kedua teman ku itu. Derit lantai kayu semakin lama semakin terdengar. Aku berjalan semakin cepat, seakan ada yang memanggil ku.

"Christine.."

Benar! Ternyata memang benar ada suara disana. Bukan halusinasiku. Suaranya terdengar sangat jauh diujung sana.
"Hey, kalian dengar itu?" Bisik ku
Tidak ada jawaban.
"Hey!"

===================

"Second Floor of The Lost Dimension" Part 3

Kenapa tidak ada jawaban?

Aku menoleh ke belakang dan tidak ada orang.
Sedikit panik aku berbalik arah dan mulai mencari mereka.
"Danny, Lisa, dimana kalian? Ayolah ini tidak lucu." Aku mulai membuka pintu kamar yang sudah kami lalui tadi. Masih tidak ada yang bisa dibuka. "Hello, guys?"
Klik! Salah satu pintu terbuka.
Aku melangkah masuk ke dalam dengan gugup. "Guys...? Kalian disini?"
Ruangan ini adalah sebuah ruangan kerja dengan set perabot berwarna coklat tua.

Aku berjalan mendekati meja kerja yang ada. Beberapa file berserakan di atas meja berdebu tebal itu. Mata ku tertuju pada beberapa tumpukan kertas ukuran A4 yang sudah menguning. Aku mengambil selembar dan mengusap debu di permukaan kertas itu.

"ANAK YANG HILANG.
Jika Anda melihat mereka, silahkan hubungi kami"
(tulisan bold highlight berita)

Aku memperhatikan wajah anak yang dicari itu. Sepertinya aku pernah melihat mereka di suatu tempat.
Bulu kuduk ku berdiri. Ternyata anak itu adalah Danny! Didalam foto itu Danny terlihat sedang bersepeda dan di belakang nya nampak Lisa sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita. Mungkin itu ibu mereka. Foto itu diambil di depan halaman rumah ini. Kemudian aku lanjut membaca tulisan kecil di bawah lembaran itu.

"18 May 1972"

Perutku terasa mual dan kepala ku mulai pusing. Jantung ku berdetak kencang dan terasa nyeri sampai sulit bernafas (jika ada yang bertanya, itu tanda ketakutan instant menyerang) Lelucon macam apa ini? Aku baru saja bersama mereka 7 menit yang lalu, and for God's sake, this is 2015!! Tapi orang idiot mana yang akan menghabiskan kertas ber-rim hanya untuk sebuah lelucon?!

Aku meletakkan kertas itu kembali ke meja dan bergegas keluar dari ruangan ini. Dan ya, aku berniat keluar dari rumah ini segera. Aku berjalan cepat menuju ke arah tangga, dan berpikir harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencapai tangga; tapi ternyata dugaan ku salah, tangga hanya terletak setelah 2 pintu dari ruang kerja ini. Aneh.

===================

"Second Floor of The Lost Dimension" Part 4 - Final.

Aku bergegas berlari menuruni tangga dan akhirnya sampai di lantai 1. Jantung ku masih berdetak kencang dan aku yakin saat ini wajah ku bahkan lebih pucat dari biasanya.
Aku menenangkan diri sejenak kemudian berjalan ke dapur, mengambil cangkir dan menuangkan sedikit lemon juice dingin yang ada di atas meja.

Suasana hening..

hanya terdengar suara redup televisi dari ruang tamu mengenai laporan cuaca hari ini. Aku berjalan ke ruang tamu untuk melihat siapa yang sedang menonton televisi.

Tidak ada orang.
"Hallo...?"
Kemana mereka?
Aku ingin bertanya pada siapa saja, apakah mereka tahu mengenai atau apa yang terjadi dengan Danny dan Lisa.

Aku melihat 2 anak kecil sedang jongkok bermain dengan seekor kucing di halaman depan.

"Hi?" sapaku.

Kedua anak itu menoleh ke arah ku.
Namun mereka tidak berekspresi. Dan tidak berbicara apapun.

"Kalian tahu kemana semua orang? Dimana orang tua kalian?"

Mereka tidak menjawab dan kembali bermain dengan kucing.
"Aneh" pikirku.

Tiba-tiba terdengar suara kerumunan orang turun dari tangga. Kenapa jadinya ada begitu banyak orang di lantai 2? Ada apa ini? Bukannya tadi tidak ada orang?
Aku berbalik ke arah tangga dan melihat kerumunan orang itu.

Atau lebih tepatnya, kerumunan para hantu.

Ya, tubuh mereka berwarna putih pucat dan terlihat mereka melewati satu sama lain tanpa bertabrakan.
Para pria memakai jas hitam dan abu2, sebagian memegang jas dan topi. Sementara yang wanita memakai setelan kantor yang sangat rapi.

Mataku terbelalak hampir tidak percaya apa yang aku lihat di siang bolong ini. Matahari bersinar terik akan tetapi aku mengigil kedinginan, dan mengusap kedua telapak tangan ku.
Jarum jam dinding tiba-tiba berputar sangat cepat dan terus berbunyi tanpa henti. Teng, teng, teng, teng....
"Ya ampun, ada apa ini?!" Uap dingin keluar dari mulut ku. "Hah...!" Sekali lagi aku menghembuskan nafas dari mulut dan ya, kenapa ada uap dingin?!
Aku melangkah mundur menjauh dan mendapati diri ku tidak berbayang di kaca jendela.

Suasana hening..
Tik, tok, tik, tok,...
Hanya terdengar bunyi detak jarum jam dinding. Ntah kenapa jam dinding ini bunyinya keras sekali menurut ku. Apa karena sanking hening nya kamar ini?

Waktu menunjukan pukul 06:51 dan aku terbaring di tempat tidur. Aku melihat ke langit-langit dan menyadari aku ada di rumah.
"Bangun, dah mau jam 7. nanti terlambat kerja."
Aku menyebut ini kalimat pembuka hari, yang aku dengar tiap pagi dari nenek ku.

Ku pikir, ini mimpi yang sangat menarik.

=====THE END=====

Komentar